Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Minggu ke-15

 Cerpen Aroma Buku Tua di Ujung Gang Gerimis tipis membasahi kaca jendela toko buku kecil milik Pak Arya, "Pustaka Senja", di ujung gang sempit kota yang bising. Aroma kertas tua, lem kayu, dan sedikit bau apek yang khas menyambut siapa saja yang masuk. Pak Arya, dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungnya, sedang telaten memperbaiki jilid buku novel tahun 70-an. Tiba-tiba, lonceng di atas pintu berdentang. Seorang gadis muda bernama Nara masuk, rambutnya sedikit basah oleh hujan. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya, mencari kehangatan. "Pak, apakah ada buku puisi karya Sapardi yang sampulnya biru?" tanyanya lembut. Pak Arya tersenyum, kerutan di sudut matanya menegaskan kehangatan. "Ah, buku itu. Di rak pojok kiri, dekat lampu meja yang redup, Nara." Nara berjalan mendekat, menyusuri rak kayu jati yang sudah menua. Jemarinya menelusuri punggung buku satu per satu. Ia mencintai tempat ini. Tempat di mana waktu seolah berhenti, kontras dengan deru ...

Minggu ke-14

 Cerpen Rumah yang Berbeda Sudah lima tahun Arya tidak pulang. Kota ini, dengan aroma tanah basah setelah hujan, tetap sama. Namun, rumah di ujung jalan itu terasa asing. Ayah duduk di kursi goyang, tatapannya kosong ke arah kebun, rambutnya memutih sepenuhnya. "Arya?" suaranya parau. Arya tersenyum, meski dadanya sesak. "Iya, Yah. Arya pulang." Tidak ada pelukan erat, hanya tatapan lelah yang lega. Arya sadar, dia melewatkan terlalu banyak waktu, dan kerinduan ini ternyata lebih menyakitkan daripada jarak yang dulu dipikirkannya.  

minggu 13

  Senja di Ujung Dermaga Lelaki itu, Aris, kembali berdiri di ujung dermaga yang sama. Angin laut meriap, membawa aroma garam dan kenangan lima tahun lalu. Di tempat ini, ia melepaskan seseorang yang paling ia cinta, bukan karena benci, tapi karena takdir. Langkah tertatih di sisa waktu, Dermaga tua meratapi temu. Ada rindu yang terpatri di kayu rapuh, Tersisa tatap yang perlahan runtuh. Ia meraba saku jaketnya, menemukan secarik kertas kusam yang tak pernah sempat ia berikan. Kertas itu berisi bait-bait yang ia tulis saat menunggunya kembali. Saat itu, senja terasa begitu oranye, sehangat pelukan terakhir sebelum perpisahan. Di sini, senja melukis warna jingga, Menyembunyikan air mata dengan mega. Waktu berhenti pada detak terakhir, Saat kau pergi, hatiku pun fakir.   Aris menatap ombak, bayangan masa lalu seolah menari di atas permukaannya. Ia menyadari, merelakan bukan berarti melupakan. Bahwa perpisahan hanyalah cara lain dari Tuhan untuk mengajarkannya arti kedalaman menc...

blog minggu ke-12

 Nama: Jihan Maulidta NIM: 2530102020007

blog minggu 11

"Jarak dan Rindu” puisi Di simpang stasiun senja, Kau titipkan angin yang serupa doa. Bukan pada peta, bukan pada nama, Tapi pada hening yang sama-sama kita genggam. Rindu tumbuh seperti akar di bawah tanah, Tak kelihatan, tapi mencengkeram keras. Setiap jarak adalah bahasa lain— Kadang pelan, kadang membakar. Maka biarlah malam ini aku jadi puisi, Bukan untuk dibaca, tapi untuk kamu tinggal di dalamnya. --- (Cerpen) “Kopi Pahit dan Peron Tua” Setiap Sabtu sore, Laras duduk di bangku panjang peron tua Stasiun Jogja. Bukan karena ia akan naik kereta, tapi karena di sanalah terakhir kali ia melihat Arya melambaikan tangan dari balik jendela kereta ekonomi, dua tahun lalu. Saat itu Arya bilang, “Aku akan kembali setelah paham caranya mencintai tanpa merusak.” Laras tidak menangis. Ia hanya mengangguk sambil memegang erat gelang anyaman benang merah di pergelangannya—pemberian Arya seminggu sebelum pergi. Hari-hari berlalu seperti gerbong kereta yang melaju tanpa suara. Laras pindah k...