Minggu ke-14

 Cerpen

Rumah yang Berbeda
Sudah lima tahun Arya tidak pulang. Kota ini, dengan aroma tanah basah setelah hujan, tetap sama. Namun, rumah di ujung jalan itu terasa asing. Ayah duduk di kursi goyang, tatapannya kosong ke arah kebun, rambutnya memutih sepenuhnya.
"Arya?" suaranya parau.
Arya tersenyum, meski dadanya sesak. "Iya, Yah. Arya pulang."
Tidak ada pelukan erat, hanya tatapan lelah yang lega. Arya sadar, dia melewatkan terlalu banyak waktu, dan kerinduan ini ternyata lebih menyakitkan daripada jarak yang dulu dipikirkannya. 

Puisi

Jejak Waktu
Di sudut meja yang berdebu
Kusimpan jam yang berhenti berdetak
Seperti rinduku padamu
Yang beku, namun tak pernah beranjak
Kau adalah angin yang lalu
Meninggalkan aroma di ujung pena
Aku adalah daun kering itu
Yang menunggu jatuh, kembali ke tanah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permata Taman