blog minggu ke-12

 Nama: Jihan Maulidta

NIM: 2530102020007

CERPEN

"Pohon Terakhir di Bukit Purnama"


Di ujung dusun, tepat di kaki Bukit Purnama, hiduplah seorang pemuda bernama Arga. Ia dikenal aneh oleh warganya. Sementara yang lain berbondong-bondong menebang kayu jati untuk dijual ke kota, Arga justru kerap bicara sendiri di bawah pohon beringin tua yang menjulang di puncak bukit.


"Mereka bilang angin ini gratis, Nak," bisik Arga pada pohon itu. Ia sudah memberi nama pohon tersebut: *Saka Raya*.


Hari demi hari, gonggongan gergaji mesin terdengar semakin dekat. Bukit yang dulu hijau kini gundul seperti kulit kepala terkena kurap. Hanya Saka Raya yang masih kokoh, akar-akarnya mencengkeram tanah seperti jari-jari kemarahan.


Suatu malam, hujan deras mengguyur tanpa ampun. Arga yang terjaga merasakan getaran aneh dari tanah. Ia berlari ke bukit. Di tengah butiran air yang menusuk wajah, ia melihat Saka Raya berguncang hebat. Tanah di sekitar akarnya mulai retak. Longsor!


Arga memeluk batang pohon itu. "Aku tidak akan pergi!"


Ranting-ranting Saka Raya seperti merunduk melindungi. Dalam sekejap, Arga merasakan sesuatu yang mencengangkan: akar-akar pohon itu menjalar ke bawah, menganyam jaring raksasa yang menahan tanah longsor. Bukit bergemuruh, tapi Arga dan Saka Raya selamat.


Keesokan harinya, warga menemukan Arga tertidur di pangkal pohon. Di sekitarnya, puluhan tunas kecil mulai tumbuh. Mereka baru menyadari bahwa selama ini yang mereka tebang bukan sekadar kayu, melainkan cengkeraman yang menahan rumah mereka dari kehancuran.


Kini, setiap musim tanam, warga membawa bibit ke bukit itu. Arga tersenyum. Saka Raya tak lagi sendirian. Bukit Purnama kembali berbisik dengan dedaunan, dan angin yang dulu mereka anggap gratis, kini terasa sangat berharga.


 PUISI


"Sisa Hijau"


Di ujung aspal yang meliuk panas  

Pepohonan berdiri seperti pasien yang lelah  

Menunggu jarum suntik dari langit yang enggan menangis  


Sungai-sungai mengalirkan cermin pecah  

Ikan-ikan menjadi fosil yang masih berenang  

Di antara sampah plastik yang berbunga-bunga  


Pabrik-pabrik bernyanyi dengan suara hitam  

Menyulam awan menjadi kain kabung  

Langit menggaruk-garuk dadanya sendiri  


Tapi di sela retakan trotoar  

Seekor semut dengan gagah mengangkut remah mimpi  

Ia tidak tahu tentang resesi, tentang krisis  

Ia hanya tahu: tanah ini masih rumah  


Dan kita?  

Kita yang sibuk menghitung kerugian dalam rupiah  

Lupa bahwa oksigen tak pernah mengirimkan tagihan  


Maka sebelum suara terakhir paru-paru dunia habis  

Biarkan aku menanam sebatang pohon  

Di halaman rumahmu, di sela-sela kesibukanmu  

Bukan untuk menyelamatkan bumi  

Tapi untuk mengingatkanmu  

Bahwa kita hanyalah tamu yang suatu hari harus pamit  

Pada daun-daun yang lebih dulu tulus menghijau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permata Taman