Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Sakit yang membekas

  Di Balik Senyum yang Palsu Di balik senyum yang ia pakai, Ada luka yang tak bisa selesai. Kata-kata tajam, janji yang palsu, Semua terukir dalam hati yang bisu.   Ia pernah percaya, pernah menyerah, Pada cinta yang menjelma resah. Tangan yang ia genggam kini hilang, Menyisakan bayang yang begitu lengang.  

Maaf yang Terlambat

 TERLAMBAT BERUBAH Aku meminta maaf, akhirnya aku berubah Saat jiwaku kehilangan arah Kucoba menata sisa hidup yang patah Meski tahu, kau tak lagi ramah. Maaf jika diri yang dulu hilang Digantikan diam dan muram yang panjang Kutitipkan sesal pada waktu Yang kini tak lagi milikku.

Hari yang sweet

Cahaya Kasih di Bulan Februari Di ufuk timur Februari menyapa, Membawa kisah tentang cinta yang membara. Bukan sekadar cokelat dan bunga, Namun hati yang terpaut dalam irama. Kau adalah terang dalam gelapku, Menemani hari dengan senyum tulusmu. Di hari kasih sayang yang syahdu, Ingin kuserahkan seluruh rindu. Langkah kita tertuju ke arah yang sama, Menjalin kasih dalam ikatan berdua. Menjaga janji, merawat setia, Hingga waktu tak lagi menyapa. Selamat Valentine untukmu, sayang, Semoga cinta kita tak pernah hilang. Tetaplah bersamaku di bawah bintang, Mengarungi hidup dengan hati riang.

Sahabat Dekat

Rumah Kedua di Balik Buku Tua Bagi kebanyakan orang, perpustakaan sekolah adalah tempat yang membosankan. Namun, bagi Rara dan Maya, tempat itu adalah markas besar mereka. Di pojok belakang, di antara rak-rak buku tua yang berdebu, persahabatan mereka tumbuh subur sejak kelas 1 SMP hingga kini mereka duduk di kelas 3. Rara adalah si ceroboh yang pandai menggambar, sedangkan Maya adalah si tenang yang kutu buku. Mereka seperti dua kutub yang berbeda, tapi entah bagaimana, selalu menyatu. "Ra, kalau nanti kita SMA beda sekolah, kamu bakal lupain aku enggak?" tanya Maya suatu siang, memecah keheningan saat mereka mengerjakan tugas sejarah. Rara menghentikan goresan pensilnya, menatap sahabat dekatnya itu tajam. "Pertanyaan bodoh apa itu, May? Biarpun kita pisah benua, kamu tetap sahabat terbaikku. Siapa lagi yang mau dengerin curhatan aku tentang cowok-cowok di kelas?" Maya tersenyum lega. Mereka kembali diam, menikmati kebersamaan tanpa perlu banyak bicara. ...