Minggu ke-15
Cerpen
Aroma Buku Tua di Ujung Gang
Gerimis tipis membasahi kaca jendela toko buku kecil milik Pak Arya, "Pustaka Senja", di ujung gang sempit kota yang bising. Aroma kertas tua, lem kayu, dan sedikit bau apek yang khas menyambut siapa saja yang masuk. Pak Arya, dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungnya, sedang telaten memperbaiki jilid buku novel tahun 70-an.
Tiba-tiba, lonceng di atas pintu berdentang. Seorang gadis muda bernama Nara masuk, rambutnya sedikit basah oleh hujan. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya, mencari kehangatan. "Pak, apakah ada buku puisi karya Sapardi yang sampulnya biru?" tanyanya lembut. Pak Arya tersenyum, kerutan di sudut matanya menegaskan kehangatan. "Ah, buku itu. Di rak pojok kiri, dekat lampu meja yang redup, Nara."
Nara berjalan mendekat, menyusuri rak kayu jati yang sudah menua. Jemarinya menelusuri punggung buku satu per satu. Ia mencintai tempat ini. Tempat di mana waktu seolah berhenti, kontras dengan deru motor di luar sana. Saat ia menemukan buku itu, selembar daun kering jatuh dari dalam halamannya. Daun kenangan, pikirnya.
Ia membawa buku itu ke meja kasir. "Pak, tempat ini rasanya seperti mesin waktu," kata Nara. Pak Arya terkekeh, "Buku adalah pintu, Nara. Kita hanya perlu berani membukanya."
Gerimis perlahan reda, menyisakan aroma tanah yang khas, saat Nara keluar dengan buku di pelukannya, membawa pulang secuil ketenangan dari toko buku Pak Arya.
Puisi
Pelabuhan Kertas
Di ujung gang, waktu tertidur lelap
Dalam ruangan beraroma kertas dan lem tua
Pak Arya duduk, menjahit jilid yang lenyap
Di antara rak-rak saksi kisah manusia
Dalam ruangan beraroma kertas dan lem tua
Pak Arya duduk, menjahit jilid yang lenyap
Di antara rak-rak saksi kisah manusia
Lonceng berdenting, hujan berbisik pelan
Nara datang mencari bait-bait biru
Menyusuri kenangan di antara tumpukan
Daun kering gugur, membawa masa lalu
Nara datang mencari bait-bait biru
Menyusuri kenangan di antara tumpukan
Daun kering gugur, membawa masa lalu
Buku-buku adalah pintu, pintanya pelan
Membuka jendela pada dunia yang diam
Di sini, sunyi adalah sebuah pelukan
Menepis bising, merawat damai di dalam.
Membuka jendela pada dunia yang diam
Di sini, sunyi adalah sebuah pelukan
Menepis bising, merawat damai di dalam.
Komentar
Posting Komentar