blog minggu 11
"Jarak dan Rindu”
puisi
Di simpang stasiun senja,
Kau titipkan angin yang serupa doa.
Bukan pada peta, bukan pada nama,
Tapi pada hening yang sama-sama kita genggam.
Rindu tumbuh seperti akar di bawah tanah,
Tak kelihatan, tapi mencengkeram keras.
Setiap jarak adalah bahasa lain—
Kadang pelan, kadang membakar.
Maka biarlah malam ini aku jadi puisi,
Bukan untuk dibaca, tapi untuk kamu tinggal di dalamnya.
---
(Cerpen)
“Kopi Pahit dan Peron Tua”
Setiap Sabtu sore, Laras duduk di bangku panjang peron tua Stasiun Jogja. Bukan karena ia akan naik kereta, tapi karena di sanalah terakhir kali ia melihat Arya melambaikan tangan dari balik jendela kereta ekonomi, dua tahun lalu.
Saat itu Arya bilang, “Aku akan kembali setelah paham caranya mencintai tanpa merusak.”
Laras tidak menangis. Ia hanya mengangguk sambil memegang erat gelang anyaman benang merah di pergelangannya—pemberian Arya seminggu sebelum pergi.
Hari-hari berlalu seperti gerbong kereta yang melaju tanpa suara. Laras pindah kerja, belajar meracik kopi, bahkan mulai tersenyum lagi. Tapi setiap Sabtu sore, ia tetap setia ke peron itu. Bukan karena ia masih berharap Arya muncul—tapi karena di situlah ia belajar bahwa rindu yang dewasa tidak selalu berteriak; kadang ia hanya duduk diam, menyesap kopi pahit, dan membiarkan luka menjadi pelajaran.
Sampai suatu sore, ketika langit berwarna ungu keemasan, seseorang duduk di sampingnya. Bukan Arya. Laki-laki itu berkacamata, membawa buku puisi, dan menawarkan sebatang cokelat.
“Peron ini sepi,” katanya. “Boleh temani?”
Laras menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia melipat gelang merah itu dan menyimpannya di dalam tas.
“Boleh,” jawab Laras. “Asalkan kamu tidak berjanji akan kembali.”
Laki-laki itu tersenyum. “Aku tidak pernah pandai berjanji. Tapi aku pandai mendengar.”
Dan di peron yang sama, di senja yang tak pernah berhenti setia, Laras mulai percaya bahwa tidak semua kedatangan harus diawali dengan kepastian. Kadang, kedatangan yang paling indah adalah yang tidak pernah dijanjikan.
Komentar
Posting Komentar