minggu 13

 Senja di Ujung Dermaga

Lelaki itu, Aris, kembali berdiri di ujung dermaga yang sama. Angin laut meriap, membawa aroma garam dan kenangan lima tahun lalu. Di tempat ini, ia melepaskan seseorang yang paling ia cinta, bukan karena benci, tapi karena takdir.
Langkah tertatih di sisa waktu,
Dermaga tua meratapi temu.
Ada rindu yang terpatri di kayu rapuh,
Tersisa tatap yang perlahan runtuh.
Ia meraba saku jaketnya, menemukan secarik kertas kusam yang tak pernah sempat ia berikan. Kertas itu berisi bait-bait yang ia tulis saat menunggunya kembali. Saat itu, senja terasa begitu oranye, sehangat pelukan terakhir sebelum perpisahan.
Di sini, senja melukis warna jingga,
Menyembunyikan air mata dengan mega.
Waktu berhenti pada detak terakhir,
Saat kau pergi, hatiku pun fakir. 
Aris menatap ombak, bayangan masa lalu seolah menari di atas permukaannya. Ia menyadari, merelakan bukan berarti melupakan. Bahwa perpisahan hanyalah cara lain dari Tuhan untuk mengajarkannya arti kedalaman mencintai tanpa harus memiliki. 
Kulepas kau bersama arus yang tenang,
Meski hati tersayat, takkan terbilang.
Biarlah dermaga ini menyimpan cerita,
Tentang kita, rindu, dan sunyi senja.
Aris tersenyum tipis, berbalik, dan meninggalkan dermaga, membawa tenang yang perlahan merayap di dadanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permata Taman