Hari yang sweet
Cahaya Kasih di Bulan Februari
Di ufuk timur Februari menyapa,
Membawa kisah tentang cinta yang membara.Bukan sekadar cokelat dan bunga,
Namun hati yang terpaut dalam irama.
Kau adalah terang dalam gelapku,
Menemani hari dengan senyum tulusmu.
Di hari kasih sayang yang syahdu,
Ingin kuserahkan seluruh rindu.
Menemani hari dengan senyum tulusmu.
Di hari kasih sayang yang syahdu,
Ingin kuserahkan seluruh rindu.
Langkah kita tertuju ke arah yang sama,
Menjalin kasih dalam ikatan berdua.
Menjaga janji, merawat setia,
Hingga waktu tak lagi menyapa.
Menjalin kasih dalam ikatan berdua.
Menjaga janji, merawat setia,
Hingga waktu tak lagi menyapa.
Selamat Valentine untukmu, sayang,
Semoga cinta kita tak pernah hilang.
Tetaplah bersamaku di bawah bintang,
Mengarungi hidup dengan hati riang.
Semoga cinta kita tak pernah hilang.
Tetaplah bersamaku di bawah bintang,
Mengarungi hidup dengan hati riang.
Surat di Bawah Meja (Cerpen Valentine)
Hari itu, 14 Februari, suasana di SMA Pelita Bangsa terasa berbeda. Sejak pagi, aroma cokelat dan warna merah jambu mendominasi koridor sekolah. Kirana, siswi kelas 11 yang pemalu, hanya bisa menatap pemandangan itu dari mejanya di sudut kelas. Ia menyukai Raka, ketua OSIS yang ramah, tetapi merasa tidak percaya diri untuk memberikan cokelat secara langsung.
"Nanti malam aku akan taruh surat ini di lokernya saja," bisik Kirana pada dirinya sendiri, meremas kertas merah jambu berisi puisi yang ia tulis semalaman.
Tiba-tiba, teman sebangkunya, Maya, menyenggol lengannya. "Kir! Raka nyariin kamu tuh di perpustakaan. Katanya disuruh bantu nata buku buat mading."
Jantung Kirana berdegup kencang. Ia segera bergegas ke perpustakaan. Sesampainya di sana, Raka sedang sibuk merapikan tumpukan majalah.
"Eh, Kirana. Makasih ya sudah datang," sapa Raka dengan senyum khasnya.
Mereka berdua bekerja dalam diam selama beberapa menit. Kirana merasa ini adalah momen yang tepat, tapi lidahnya kelu. Raka, yang menyadari kegugupan Kirana, tiba-tiba berhenti dari aktivitasnya.
"Kir," panggil Raka pelan. "Sebenarnya... aku tahu hari ini Valentine. Tapi, aku nggak terlalu suka perayaan cokelat-cokelatan di sekolah."
Kirana menunduk, kecewa.
"Tapi," lanjut Raka, mendekat ke arah Kirana, "Aku lebih suka kejujuran. Aku memperhatikan kamu yang sering kasih makan kucing liar di taman belakang. Aku suka cewek yang perhatian. Kamu mau nggak, Sabtu ini kita jalan? Bukan buat Valentine, tapi buat kenal lebih jauh?"
Kirana mengangkat wajahnya, menatap mata Raka. Kejutan itu membuatnya terdiam sejenak, lalu tersenyum manis. "Mau, Raka."
Tanpa perlu cokelat, hari itu menjadi Valentine terindah bagi Kirana.
Komentar
Posting Komentar