Di balik senyum yang ia pakai, Ada luka yang tak bisa selesai.
Kata-kata tajam, janji yang palsu, Semua terukir dalam hati yang bisu.
Ia pernah percaya, pernah menyerah, Pada cinta yang menjelma resah. Tangan yang ia genggam kini hilang, Menyisakan bayang yang begitu lengang.
Surat yang Tidak Pernah Dikirim
Sepuluh tahun berlalu, namun aroma hujan dan tanah basah selalu membawa Aris kembali ke sore itu. Sore di mana ayahnya menutup pintu rumah dengan keras, membawa pergi separuh jiwanya tanpa kata pamit, hanya menyisakan deru motor yang perlahan hilang ditelan badai.
Saat itu Aris berusia sepuluh tahun. Ia masih ingat bagaimana ibunya terduduk lesu di lantai dapur, memeluk lutut dengan pandangan kosong. Aris kecil tidak menangis saat itu. Ia justru mendekati ibunya, memegang pundak yang gemetar itu, dan berbisik"Aris janji akan jadi anak kuat, Bu."
Janji itu ditepati. Aris tumbuh menjadi pria yang mandiri, sukses, dan dingin. Ia tidak pernah membiarkan dirinya bergantung pada siapa pun. Sakitnya perpisahan itu telah membekas, mengeras menjadi perisai yang menutup hatinya. Ia takut. Takut jika mencintai seseorang terlalu dalam, mereka akan pergi seperti ayahnya.
Suatu hari, Aris menemukan sebuah buku harian lama di gudang rumah. Di dalamnya, ada surat yang belum sempat ia kirimkan untuk ayahnya. Surat sederhana berisi kerinduan seorang anak kecil.
Aris membacanya, dan pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh. Air mata yang dulu ia tahan pada usia sepuluh tahun, tumpah ruah saat ia berusia tiga puluh tahun. Ia sadar, perisai itu tidak melindunginya, melainkan memenjarakannya.
Sakit itu masih ada, membekas dan nyata. Namun, sore itu Aris memutuskan untuk berhenti melarikan diri. Ia tidak memaafkan ayahnya, tapi ia memaafkan dirinya sendiri karena pernah merasa begitu hancur.
Luka itu membekas, tetapi kini ia tahu, bekas luka adalah tanda bahwa ia pernah bertahan, bukan tanda bahwa ia harus terus merasa sakit.
Permata Taman Di ujung tangkai engkau menyapa, Kelopak lembut berwarna jingga, Merekah indah di pagi buta, Disapa embun, penyejuk jiwa. Harummu semerbak tenang di hati, Meski berduri engkau tak bersembunyi, Mengajarkan pesona tak perlu berapi, Tetap bersinar, tulus abadi.
PUISI Tentang Waktu & Kehidupan Hidup hanyalah mampir minum, Jangan biarkan hati mengurung mendung. Sebab waktu tak pernah berulang, Jadikan detik ini sebuah pemenang.
Komentar
Posting Komentar