Maaf yang Terlambat
TERLAMBAT BERUBAH
Aku meminta maaf, akhirnya aku berubah
Saat jiwaku kehilangan arah
Kucoba menata sisa hidup yang patah
Meski tahu, kau tak lagi ramah.
Saat jiwaku kehilangan arah
Kucoba menata sisa hidup yang patah
Meski tahu, kau tak lagi ramah.
Maaf jika diri yang dulu hilang
Digantikan diam dan muram yang panjang
Kutitipkan sesal pada waktu
Yang kini tak lagi milikku.
Digantikan diam dan muram yang panjang
Kutitipkan sesal pada waktu
Yang kini tak lagi milikku.
Surat di Bawah Tumpukan Buku
Sudah lima tahun sejak terakhir kali Aris melihat Rina. Hari itu, di kafe kecil dekat kampus, Aris memutuskan hubungan mereka dengan kalimat yang kasar dan egois. Aris merasa Rina terlalu mengekang dengan segala perhatiannya, padahal saat itu Rina hanya mengkhawatirkan kesehatan Aris yang sering begadang.
"Aku butuh ruang, Rin. Kamu terlalu menuntut," ucap Aris dingin saat itu, mengabaikan mata Rina yang berkaca-kaca.
Rina tidak menangis meraung, dia hanya mengangguk pelan, membereskan tasnya, dan pergi. Sejak hari itu, Rina menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada media sosial yang aktif. Aris, dengan keangkuhan masa mudanya, merasa menang.
Namun, waktu adalah guru yang paling kejam.
Setahun setelah putus, Aris menyadari bahwa "ruang" yang dia minta justru membuatnya hampa. Perhatian Rina yang dulu dia anggap mengekang, ternyata adalah wujud kasih sayang yang tulus. Aris mencoba mencari Rina, tapi nihil. Rina seolah lenyap ditelan bumi.
Lima tahun berlalu. Aris kini bukan lagi pemuda egois itu. Dia sudah bekerja dan lebih dewasa. Suatu hari, saat sedang membereskan gudang rumah orang tuanya, Aris menemukan kotak kardus lama. Di dalamnya, di bawah tumpukan buku kuliah, ada sebuah buku catatan harian milik Rina yang tertinggal dulu.
Dengan tangan gemetar, Aris membukanya.
Halaman demi halaman berisi cerita tentang hari-hari mereka. Rina menulis betapa bahagianya dia merawat Aris, betapa dia mencemaskan Aris yang sering sakit maag, dan betapa dia ingin mendampingi Aris sukses. Di halaman terakhir, tertulis tanggal hari di mana mereka putus.
“Aris, mungkin kamu benar aku terlalu menuntut. Maaf ya, aku cuma takut kehilangan kamu. Kalau ini yang bikin kamu bahagia, aku ikhlas. Semoga kamu sehat selalu, Aris. Aku akan selalu mendoakanmu.”
Aris terduduk lesu. Air mata yang selama lima tahun ini tertahan akhirnya jatuh. Rina tidak pergi karena marah, dia pergi karena ingin Aris bahagia.
Seminggu kemudian, Aris mendapat kabar dari teman lamanya. Rina sudah menikah dan pindah ke luar negeri.
Aris mengambil ponselnya, mengetik pesan panjang berisi permintaan maaf dan penyesalan yang mendalam. Jari-jarinya gemetar di atas tombol send.
Namun, Aris sadar. Pesan itu tidak akan mengubah apa pun. Rina sudah bahagia dengan hidupnya yang baru. Maaf Aris sudah terlalu terlambat.
Aris akhirnya menghapus pesan itu. Dia menatap langit malam, berbisik pelan, "Bahagialah, Rin. Maafkan aku."
Kini Aris sadar, tidak semua kesalahan bisa diperbaiki dengan kata maaf, dan waktu tidak pernah berjalan mundur untuk memberi kesempatan kedua.
Komentar
Posting Komentar