Sahabat Dekat
Rumah Kedua di Balik Buku Tua
Bagi kebanyakan orang, perpustakaan sekolah adalah tempat
yang membosankan. Namun, bagi Rara dan Maya, tempat itu adalah markas besar
mereka. Di pojok belakang, di antara rak-rak buku tua yang berdebu,
persahabatan mereka tumbuh subur sejak kelas 1 SMP hingga kini mereka duduk di
kelas 3.
Rara adalah si ceroboh yang pandai menggambar, sedangkan
Maya adalah si tenang yang kutu buku. Mereka seperti dua kutub yang berbeda,
tapi entah bagaimana, selalu menyatu.
"Ra, kalau nanti kita SMA beda sekolah, kamu bakal
lupain aku enggak?" tanya Maya suatu siang, memecah keheningan saat mereka
mengerjakan tugas sejarah.
Rara menghentikan goresan pensilnya, menatap sahabat
dekatnya itu tajam. "Pertanyaan bodoh apa itu, May? Biarpun kita pisah
benua, kamu tetap sahabat terbaikku. Siapa lagi yang mau dengerin curhatan aku
tentang cowok-cowok di kelas?"
Maya tersenyum lega. Mereka kembali diam, menikmati
kebersamaan tanpa perlu banyak bicara.
Namun, persahabatan mereka diuji saat Maya harus pindah
rumah ke luar kota karena pekerjaan ayahnya. Kabar itu datang layaknya badai di
tengah musim kemarau.
Minggu terakhir sebelum kepindahan, mereka habiskan dengan
melakukan hal-hal konyol: memakan es krim di taman, berfoto dengan gaya
terjelek, hingga menangis bersama di pojok perpustakaan yang sama.
"Aku takut, Ra. Aku nggak punya teman kayak kamu di
sana," ucap Maya dengan mata sembab.
Rara memeluk Maya erat. "Maya, kamu itu pintar dan
baik. Teman-teman baru bakal beruntung punya kamu. Tapi ingat, jarak cuma soal
angka. Video call tetap jalan, oke?"
Hari perpisahan tiba. Rara memberikan sebuah buku sketsa
kecil hasil karyanya sendiri. Isinya adalah sketsa adegan-adegan kenangan
mereka berdua selama tiga tahun, mulai dari saat Maya meminjamkan catatan
hingga momen mereka dihukum lari di lapangan.
"Biar kamu enggak lupa, kalau kamu punya sahabat
cerewet bernama Rara," ujar Rara menahan air mata.
Maya menangis, memeluk buku sketsa itu erat. "Makasih,
Rara. Kamu sahabat sejatiku."
Tahun-tahun berlalu. Persahabatan mereka kini dipisahkan
oleh jarak ratusan kilometer. Namun, persahabatan dekat mereka tidak pernah
pudar. Buku sketsa itu kini bersanding dengan tumpukan buku kuliah Maya, dan
panggilan video weekend masih menjadi agenda suci mereka.
Mereka sadar, sahabat dekat bukan soal siapa yang paling
lama menghabiskan waktu bersama, tapi siapa yang tetap ada meski jarak
memisahkan.
Di kala langkah kaki terasa berat,
Kau datang membawa secercah hangat.
Bukan sekadar teman saat tertawa,
Tapi bahu tempatku berbagi duka.
Kita adalah dua jiwa yang mengerti,
Tanpa perlu banyak kata terucap lagi.
Terima kasih, sahabat sejatiku,
Telah menjadi bagian terindah dalam hidupku.
Komentar
Posting Komentar